Jumat, November 16

Kasih Sayang ( Character Education )

Suatu ketika, ada seorang wanita karir yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan.  Wanita itu tidak mengenal mereka semua.  Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut". Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suami mu kembali", kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan.  "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya,  "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria  berjanggut  lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh  masuk  ke rumahmu."
Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan." Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.  "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam?  Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang." Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita."
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu.  "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si Kasih-sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah.  Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta.  Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar.  Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih-sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat.  Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup  ini."

Seperti Inikah Dirimu ?? ( Character Education )

Sholat dhuha cuma dua rakaat
qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk.
Sholat lima waktu?
Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula…
Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah,
Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu.
Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib.
Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”.
Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah.
Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap….
Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka.
Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas,
menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya
apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya.
Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar.
Padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya.
Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas.
Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka …
untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah.
Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam ….
dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya.
Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata.
Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka
jatuh karena….
lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah
dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi
Bersedekah jarang, begitu juga infak.
Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet.
Syukur-syukur kalau ada receh.
Berbuat baik terhadap sesama juga jarang,
paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial,
yah hitung-hitung ikut meramaikan.
Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum.
Apa sih susahnya senyum?
Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya,
tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan
semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain.
Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya.
Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya…
bahkan kepada musuhnya sekali pun.
Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba
beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan ….
ya, tetangga sebelah kiri.
Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh remeh,
tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari,
kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan.
Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan
saudara sendiri.
Detik demi detik dada ini terus jengkel…
setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka …
atau mendapatkan bencana.
Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada
orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak.
Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula.
Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu?
Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua
kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka,
apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah.
Padahal mereka tak butuh apa pun … selain sikap ramah penuh kasih
dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta.
Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.
Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih.
Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga.
Bukankah Rasulullah yang tak ber-ibu memerintahkan untuk berbakti
kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian
nama Ayah?
Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat ……
masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh,
dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan?
Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu.
Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu…
hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka?
Jangan tunggu penyesalan. …..
Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ….
ketika iedul Fitri yang baru berlalu ….???
Apakah hari itu….hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna………???
Apakah siang harinya….kita sudah mengantuk… .dan akhirnya tertidur lelap…?
Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata…??? atau bahkan
kita menganggap cengeng….. .??? sampai sekeras itukah hati kita….???
Ya…Allah ya Rabb-ku….. .jangan Kau paling hati kami menjadi
hati yg keras……, sehingga meneteskan air matapun susah…….
merasa bersih…… merasa suci…. merasa tak bersalah…. ..merasa tak
butuh orang lain…… merasa modernis…. .dan visionis………
Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan… ..
terlukis bayang hampa tanpa makna…..dan kebahagiaan semu penuh ragu…..
Astaghfirullaah
Yaa Allah…ampunilah segenap khilaf kami.
Aamiin

Pesan Terakhir ( Character Education )

Selepas upacara pemakaman, aku langsung masuk ke dalam kamar. Pandanganku langsung tertuju pada benda berwarna biru, notebook istriku. Hari ini kuberanikan menyentuh barang kesayangannya. Inilah teman sejati istriku dalam menjalani hari-harinya.
Aku pun membukanya perlahan-lahan. Entah mengapa, aku langsung membuka recent document. Aku ingin tahu apa yang ia tulis terakhir kalinya. Ternyata ada sebuah file bertuliskan “Pesan Terakhir untuk Orang Tersayang”. Aku pun mulai membacanya…

“Aku terlahir dengan kondisi fisik yang tidak begitu bagus. Tubuhku begitu kurus karena aku mengidap penyakit yang berhubungan dengan system pernapasanku. Dari sejak lahir hingga dewasa aku tumbuh menjadi seorang yang pesakitan. Aku berteman dekat dengan rumah sakit, dokter, jarum suntik dan yang pasti obat-obatan ialah sahabat sejatiku setiap saat.
Aku memang tidak pernah mengeluh karena orang-orang didekatku selalu menguatkanku. Mereka selalu menghiburku. Meski aku tahu, penyakitku ini tidak bisa sembuh total. Dulu, ketika penyakitku sering kambuh secara tiba-tiba, aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apa aku masih bisa hidup besok ?
Aku kadang tak menyangka, jika aku masih bisa menghirup segarnya udara sampai saat ini. Aku bersyukur, Sang Pencipta masih mengizinkanku untuk berkumpul dengan orang-orang yang aku sayangi.
Aku bahagia sekali karena sebelum tiba saatnya aku kembali ke pangkuanNya, aku bisa meraih sebagian impianku. Aku bisa memberikan kedua orangtuaku sebuah rumah mewah dan mobil mewah. Aku juga bersyukur karena suamiku bisa mengajak kami untuk melaksanakan ibadah haji. Itulah keinginan terbesar orangtuaku dari dulu.
Aku pun bersyukur, karena aku mendapatkan seorang suami yang baik. Penantianku yang begitu lama, ternyata tidak sia-sia. Aku mendapatkan seorang suami yang begitu sempurna. Semua yang aku harapkan, ada padanya.
Ia sosok lelaki yang diidamkan oleh semua wanita. Tak heran jika banyak wanita yang menyukainya. Aku memang tidak secantik wanita-wanita yang sering berada di dekatnya. Aku pun tidak sebaik mereka. Aku masih terlalu banyak kekurangan bila dibandingkan dengan mereka.
Maafkan aku suamiku, aku pernah menangis karena aku cemburu melihat kau dekat dengan teman sekerjamu. Kau bisa tertawa riang dan terlihat bahagia ketika bersamanya. Kau bilang ia wanita hebat dan cerdas. Aku berusaha tersenyum dihadapanmu, tapi hatiku menangis. Aku tidak suka jika kau selalu membanding-bandingkan aku dengan wanita lain.
Tapi biarlah karena aku mencintaimu bukan karena parasmu yang ganteng atau juga karena kekayaanmu. Aku mencintaimu karena Sang Maha Pencipta. Dan aku yakin kau pun sama sepertiku.
Kau adalah anugerah terindah dalam hidupku. Kau telah membantu mewujudkan impianku untuk membantu sesama yang merupakan keinginanku sebelum aku menutup mata. Kau bantu aku membangun sekolah gratis untuk orang-orang yang kurang mampu. Kau juga temani aku untuk menyantuni saudara-saudara kita yang kurang beruntung.
Aku ucapkan terima kasih banyak, suamiku. Kau telah menemani sisa umurku. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari hidupmu. Kau adalah suami yang hebat. Aku selalu berharap kita bisa dipertemukan kembali dalam surgaNya kelak.
Aku pun selalu berdo’a, jika tiba saatnya aku kembali ke pangkuanNya, jagalah kedua malaikat kecil kita. Didiklah mereka dengan iman dan ilmu. Temani mereka dengan cinta dan kasih sayang.”

Tak terasa air mataku membasahi notebook kesayangan istriku. Keheningan malam dan angin sepoi-sepoi menemani kesendirianku di kamar ini. Kamar yang dulu selalu ada bidadari yang menemaniku. Sekarang ia telah pergi menemui panggilan cinta dari Sang Pencipta.
Jika aku tidak punya iman, mungkin aku sudah gila dengan keadaan seperti ini. Wanita yang setiap hari selalu menemaniku. Wanita yang senantiasa memberikan senyum terindah di depanku, kini telah tiada.
Jika ia mengaku begitu bahagia karena aku telah menjadi suaminya. Padahal sebenarnya, akulah yang lebih bahagia, karena aku telah mendapatkan seorang wanita yang hebat. Sejak aku mengenalnya, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Tok….tok….tok….
Suara ketukan pintu membuyarkan semua lamunanku. Terdengar Fatimah memanggil-manggil namaku.
“Yah, makan dulu, Yah….dari tadi pagi ayah kan belum makan.”
“Nanti saja, ayah belum lapar. Kalian duluan aja.”
Aku tidak beranjak dari meja yang biasa dipakai istriku untuk menulis. Aku tak kuasa untuk meninggalkan semua kenangan manis dengannya.
“Yah! boleh aku masuk?” Fatimah ternyata masih ada di depan pintu kamar.
Aku mencoba bangkit, dan membuka kunci pintu kamarku. Tanpa berkata-kata, aku peluk erat anak pertamaku ini. Fatimah tahu aku begitu tertekan. Ia mencoba menguatkanku.
“Yah, kita semua kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kita. Aku, Aisyah, Ayah dan semua orang pasti belum siap untuk kehilangan ibu. Tapi….”
Fatimah tak kuasa untuk melanjutkan kata-katanya. Aku mencoba menghapus air mata Fatimah. Aku tahu kedua anakku memang sangat dekat dengan ibunya. Mereka begitu mengidolakan ibunya.
“Ayah nggak boleh sedih terus ya…Bantu kami untuk tegar, Yah.”
Aku tertegun memikirkan ucapan anakku barusan. Benar apa kata Fatimah, aku harus tegar agar anak-anakku pun bisa tegar menghadapi semua ini.
Kami memang bukan hanya kehilangan sosok seorang istri atau ibu. Tapi kami kehilangan sosok seorang teman, sahabat, guru dan seorang yang senantiasa setia mendengar semua cerita kami.
Aku masih rindu dengan ide-ide cemerlangnya dan juga jiwa berbaginya. Memberi merupakan suatu kebahagiaan baginya. Ia tidak hanya cantik fisiknya, tapi ia juga cantik hati dan fikirnya.
Mentari, tidak salah kedua orangtuamu memberimu nama itu. Karena kau selalu menyinari tanpa memilih siapa yang akan kau sinari. Kau tak pernah meminta balasan dengan semua kebaikanmu.
Aku tidak tahu, kalau kau begitu cemburu dengan sikapku pada teman-teman perempuanku. Tapi sebenarnya, akulah yang paling sering mencemburuimu. Aku sering mendengar orang-orang terdekatmu memuji kecantikan dan keanggunanmu. Mereka sering mengatakan padaku, aku orang yang sangat beruntung karena mendapatkanmu. Mereka bilang, sulit sekali untuk mendekatimu.
Aku begitu bahagia ketika kau mau menjadi istriku. Kau seorang istri yang hebat, ibu yang bijak. Kau selalu membuat mereka bangga. Mereka begitu mengagumimu. Kau idola bagi mereka.
Kau sosok yang tidak pernah mengeluh. Ketika aku harus kerja di luar kota, aku baru tahu kalau kau sakit. Aku baru tahu barusan, ketika Aisyah, cerita tentang semuanya. Ketika aku tanya kenapa tidak mengabariku. Kau tahu jawabnya, karena kau tidak mau konsentrasiku menjadi terganggu.
Aisyah cerita padaku, penyakit sesakmu begitu parah. Kau pergi ke Rumah Sakit hanya ditemani mereka berdua dan juga Bi Minah. Dan ketika aku kembali, kau begitu segar bugar. Kau tak memperlihatkan tanda-tanda kalau kau baru sembuh dari sakit.
Hari ini, kau kembali ke pangkuanNya. Hari ini kau temui penciptaMu. Kau dulu pernah bercerita, ketika kau masih kecil, penyakit yang kau idap ini sering membuatmu sering bertanya, apakah besok kau masih hidup atau tidak? Dan kau bilang, ternyata Tuhan itu Maha Baik, karena kau masih diberi kesempatan untuk berbagi dengan sesama.
Istriku, tahukah kau, hari ini begitu banyak tamu yang datang. Sekolah tempatmu berbagi ilmu, sengaja diliburkan. Semua rekan sekerjamu dan juga murid-muridmu datang untuk melihatmu untuk terakhir kalinya. Mereka bilang kau guru yang hebat. Semua teman dan sahabatmu datang. Ternyata teman-temanmu begitu banyak. Mereka semua kehilangan sosok seorang teman, sahabat dan guru yang senantiasa memberi mereka motivasi.
Mereka semua mendoakanmu. Dan kau tahu, ibuku ialah orang yang paling terpukul dengan kepergianmu. Beliau selalu memeluk photomu. Dan kau tahu, ibu marah padaku, karena aku tidak memberitahu tentang penyakitmu sebelumnya. Ibu bilang aku ini suami yang tidak baik.
Aku kehilangan separuh jiwa ini. Tangisku seakan tidak bisa berhenti. Aku masih ingat ketika pertama kali kita bertemu. Kau begitu mengagumkan. Kau benar-benar bidadari surga yang diturunkan untuk menemaniku.
Maafkan jika dulu aku pernah mendiamkanmu karena waktu itu ada seseorang yang bilang mengagumimu. Padahal aku tahu, kau tidak pernah dekat dengan laki-laki lain. Aku tahu, bahwa aku ini orang yang paling beruntung karena mendapatkan seorang wanita yang belum pernah disentuh oleh laki-laki lain.
Aku berjanji, aku akan menjaga anak-anak kita. Biarlah aku melihat kedewasaanmu, ketegaranmu, dan kerendahan hatimu dari Fatimah. Dan aku akan melepas kangen melihat kemanjaanmu, kecerdasanmu dan rasa empatimu yang tinggi dari Aisyah.
Terima kasih kau telah berikan dua wanita hebat disampingku. Mereka terlahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa. Mereka dibesarkan dengan cinta dan kasih dari seorang ibu yang berhati malaikat.
Selamat jalan istriku, pesan terakhirmu akan selalu aku ingat. Berbahagialah bertemu dengan Yang Maha Mencintaimu, karena kau telah menorehkan sejuta cinta penuh makna bagi orang-orang sekitarmu. Kami berjanji akan meneruskan impianmu untuk senantiasa membahagiakan sesama.

Akhirnya Kau Ucapkan Juga Kata Itu ( Character Education )

Saat kamu 5 tahun, aku bilang aku cinta padamu. kau bertanya "apa itu?"
Saat kamu 15 tahun, aku bilang aku cinta padamu, kamu malu dengan muka memerah, menunduk dan tersenyum.
Saat kamu 20 tahun, aku bilang aku cinta padamu, kamu meletakkan kepalamu di pundakku, memegang tanganku, takut aku akan menghilang.. pergi jauh.
Saat kamu 25 tahun, aku bilang aku cinta padamu, kamu menyiapkan sarapan, dan mencium keningku sambil berkata, "Sebaiknya kamu cepat makan, nanti terlambat"
Saat kamu 30 tahun, aku bilang aku cinta padamu, kamu menjawab, "kalau kamu memang cinta padaku, pulanglah lebih awal dari kantor"
Saat kamu 40 tahun, aku bilang aku cinta padamu, kamu membersihkan meja makan dan berkata, "baik sayang, tapi ini sudah waktunya membantu anak-anak mengerjakannya tugasnya.."
Saat kamu 50 tahun, aku bilang aku cinta padamu, kamu asyik menjahit sambil tertawa mendengarnya.
Saat kamu 60 tahun, aku bilang aku cinta padamu, kamu hanya tersenyum.
Saat kamu 70 tahun, aku bilang aku cinta padamu. Kita duduk berdua diatas kursi goyang dengan kacamata sambil membacakan surat cinta yang pernah kamu buat 50 tahun yang lalu...tangan kita saling bersilangan.
Saat kamu 80 tahun, kamu bilang kamu cinta padaku. Aku hanya diam tapi mataku berlinang air mata, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagiku karena kamu bilang kamu cinta padaku!

Tentang Kebahagiaan ( Character Education )

Al-kisah, ada seorang lelaki tua yang pekerjaannya sebagai Petani Kangkung dengan kehidupannya sangat sederhana. Ia hanya memiliki satu rumah terbuat dari gubug kayu, memiliki seorang istri, dua orang anak dan satu buah sepeda tua. Suatu ketika, ia pergi besama anak dan istrinya naik sepeda ke sebuah taman. Sesampainya di taman tersebut, ia bermain bola bersama mereka. Ia tertawa riang bersama keluarganya.
Tidak lama kemudian datanglah seorang laki-laki bermobil mewah menghampirinya, lalu ia berkata, "Saya perhatikan dari tadi Bapak kelihatannya bahagia sekali, kalau boleh saya tahu, apa pekerjaan Bapak ya?"
Bapak tua menjawab, "saya hanya seorang petani kangkung yang setiap hari membawa hasil pertanian saya ke pasar lalu saya menjualnya di pasar. Setelah terjual, hasilnya saya gunakan untuk memberikan nafkah kepada keluarga saya."
Lelaki bermobil mewah bertanya kembali, "seberapa banyak kangkung yang Bapak jual setiap hari?" Ia menjawab, "Tergantung hasilnya Pak, tapi rata-rata antara 20 sampai 30 ikat. Dan satu ikatnya saya jual Rp 500,-"
Lelaki tersebut kemudian bertanya, "Mengapa bapak tidak meminta pembiayaan dari Bank saja?" "Untuk apa?" jawab lelaki tua. "Supaya bapak bisa menambah modal pertanian bapak." "Lalu untuk apa,?" tanyanya lagi.
Lelaki tersebut menjawab, "Supaya Bapak bisa menanam lebih banyak kangkung, dan bisa menjual lebih banyak ke pasar." Lalu untuk apa? tanya Bapak tua lagi. "Kalau bapak menjual banyak, tentu bapak akan mendapatkan uang lebih banyak." Jawab lelaki bermobil mewah tersebut.
"Lalu untuk apa?" jawab Bapak tua lagi. "Kalau bapak membawa uang lebih banyak, kehidupan bapak akan menjadi bahagia." Kata lelaki tersebut. Kemudian Bapak tua dengan tenang menjawab, dengan jawaban yang tidak akan pernah dilupakan lelaki tersebut. Katanya "Saya rasa saya tidak memerlukan semua itu ,Pak. Karena jika yang dituju adalah kebahagiaan, maka alhamdulillah hidup saya dari dulu hingga saat ini sudah bahagia".

Kisah Lelaki Sejati (Character Education)

Aku bertanya pada Bunda, bagaimana menjadi lelaki sejati ? Bunda menjawab, Nak.....

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang di sekitarnya...
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran...
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa ...
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia di hormati di dalam rumah...
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan...
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada di balik itu...
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya...
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan...
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca...

Memilih Jodoh ( Character Education)

Asma binti Umamah adalah seorang perempuan Arab yang sangat jelita. Kecantikannya tersohor ke seluruh negeri. Selain cantik, Asma seorang perempuan terpelajar yang sangat cerdas. Asma sosok perempuan idaman setiap lelaki. Namun, hingga usianya terus beranjak dewasa, tak ada satu pun lelaki yang dia terima lamarannya.
Suatu ketika, Khalifah Adillah bin Marwan mengutus seseorang untuk meminang Asma lewat orangtuanya. Khalifah itu hendak menikahkan anak semata wayangnya yang sudah lama mengincar Asma. Mendapat pinangan dari seorang Khalifah, ternyata tidak membuat Asma gembira, tapi justru dia kembali menolak pinangan itu. Sampai beberapa kali pinangan diberikan, Asma tetap menolaknya. Awalnya, orangtua Asma bingung apa yang diinginkan oleh anak perempuannya itu.
Asma hanya berkata dengan penuh keyakinan, “Allah akan memberikan jodoh yang baik dan terbaik untukku.” Asma selalu memanjatkan doa dan bertahajud kepada Allah agar didatangkan jodoh yang baik dan terbaik baginya. Pada suatu hari, Asma kedatangan sahabat lamanya, Abu Hurairah. Asma mengenal Abu Hurairah sebagai orang yang sangat saleh dan berbudi. Begitu pun orangtua Asma mengenal Abu Hurairah sebagai sahabat Asma sejak kecil. Sebenarnya Abu Hurairah tak sengaja berkunjung ke rumah Asma. Saat itu dia sedang membeli barang dagangan untuk dijual kembali di kotanya.
Namun, pada pertemuan itu, Abu Hurairah malah bercerita tentang keadaannya sekarang. “Istriku meninggal karena sakit dan aku memiliki seorang anak perempuan yang salihah berusia 3 tahun.”
Mendengar cerita itu, Asma berkata, “Jika kau menginzinkan, aku akan membantumu mengasuh putrimu”.
“ Maksudmu ? “, Abu Hurairah terkejut dengan ucapan Sahabatnya.
“ Sudah lama aku berdoa kepada Allah untuk dipertemukan dengan jodohku yang terbaik, entah mengapa ketika aku bertemu denganmu dan mendengar ceritamu, aku jadi yakin ini jawaban atas doaku “.
Tentu saja Abu Hurairah yang juga mengenal baik Asma, menyambut tawaran itu dengan bahagia. Demikian juga orangtua Asma, Mereka berbahagia. Namun Pernikahan Asma menjadi pergunjingan di kalangan masyarakat, banyak yang mencibir karena menganggap Asma yang cerdas bertindak gegabah dalam menentukan jodohnya.
Asma menolak anak Khalifah, tetapi malah menikah dengan seorang duda beranak satu. Namun, Asma tidak peduli dengan gunjingan itu, begitu pun orangtuanya. Sebagai seorang perempuan, dia pun mendapatkan hak untuk memilih jodohnya. Orangtua Asma justru merasa bahagia. Anak perempuannya menikah dengan seorang lelaki yang saleh dan taat beribadah serta berbudi luhur, sedangkan anak Khalifah belum tentu mampu memimpin keluarga yang diridhai Allah. Dalam Islam, memang ada anjuran untuk menikahi seseorang karena 4 hal, yaitu harta benda, nasab, kecantikan/ketampanan, dan agamanya. Asma yang jelita dan cerdas memilih Agama sebagai faktor utama memilih jodoh.